Friday, December 1, 2023
HomeSejarahKeruntuhan Kerajaan Sriwijaya: Membongkar Sisi Gelap Sejarah Nusantara

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya: Membongkar Sisi Gelap Sejarah Nusantara

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya: Membongkar Sisi Gelap Sejarah Nusantara

Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang terletak di wilayah Nusantara, yang pernah menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-14. Kerajaan ini menguasai seluruh wilayah pesisir Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam, serta Indonesia khususnya Sumatra dan Jawa. Namun, meski sukses menguasai seluruh wilayah persada Nusantara, keruntuhan Kerajaan Sriwijaya tak bisa dihindari dan bisa menjadi bencana bagi kerajaan tersebut.

Sejarah Perkembangan Sriwijaya

Sriwijaya didirikan oleh Maharaja Kertanegara pada abad ke-7, dengan pusat pemerintahan di Palembang, Sumatra Selatan. Kerajaan ini mampu bertahan selama tujuh abad dan mencapai kejayaannya pada masa kekuasaan Rajendra Chola I pada abad ke-11-12.

Sriwijaya memegang peranan penting dalam perdagangan laut di kawasan Asia Tenggara, terutama dalam perdagangan dengan Cina dan India. Selain itu, Kerajaan Sriwijaya juga menjadi pusat kebudayaan dan agama Buddha di Nusantara, di mana terdapat candi-candi Buddha yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.

Pada abad ke-14, terjadi perang saudara di Kerajaan Sriwijaya, yang membawa perpecahan dalam pemerintahan dan melemahkan pertahanannya, sehingga memudahkan serangan dari luar. Kejatuhan Kerajaan Sriwijaya juga dipengaruhi oleh kemajuan ekonomi Cina dan Portugis yang mempengaruhi jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Penyebab Keruntuhan

Sebelum menjelang keruntuhan, Sriwijaya telah mengalami masa-masa sulit disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

Peperangan Saudara

Pada awal abad ke-14, Sriwijaya mengalami peperangan saudara di bawah kekuasaan raja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa hingga Raja Zainal Abidin, yang melumpuhkan sistem pemerintahan dan menumbuhkan kecenderungan regionalisme.

Serangan Jepang

Sriwijaya juga mengalami serangan dari pasukan Jepang pada tahun 1942, yang berhasil menyerbu wilayah Palembang dan mengerahkan rakyat Sriwijaya sebagai tenaga kerja paksa dalam pembangunan jalur kereta api Sumatra.

Serangan Portugis

Serangan Portugis juga menjadi awal keruntuhan Sriwijaya, di mana Portugis menyerbu wilayah Malaka pada tahun 1511 dan menjadikan Malaka sebagai pusat perdagangan di Nusantara. Hal ini merusak jalur perdagangan Sriwijaya dan mengakibatkan kegagalan dalam pembangunan kekuatan untuk melawan kehadiran Portugis di Nusantara.

Kemajuan Ekonomi Cina

Ekonomi Cina meningkat pesat pada abad ke-14 hingga ke-15, dan berhasil menemukan jalur perdagangan baru melalui Samudera Indonesia yang membuat perdagangan melalui Selat Malaka menjadi kurang penting. Hal ini merugikan perdagangan di Nusantara dan melemahkan kekuatan Sriwijaya.

Pertumbuhan Kekuatan Islam

Pengaruh ajaran Islam yang mulai masuk ke Nusantara juga mempengaruhi keruntuhan Sriwijaya. Meskipun raja Sriwijaya telah mengadopsi ajaran Islam, namun sistem pemerintahan masih dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Buddha, sehingga menjadikan kerajaan ini lambat dalam mengadopsi ajaran Islam.

Dampak Keruntuhan Sriwijaya

Keruntuhan Sriwijaya berdampak pada hilangnya kejayaan dalam bidang perdagangan dan hilangnya kebudayaan Buddha di Nusantara. Port Malaka, yang menjadi pusat perdagangan penting setelah kejatuhan Sriwijaya, mengambil sebagian besar perdagangan dari Nusantara. Selain itu, hilangnya kerajaan Sriwijaya juga berdampak pada hilangnya situs-situs bersejarah, termasuk candi-candi Buddha yang menjadi warisan budaya Kerajaan Sriwijaya.

FAQ

Apa itu Kerajaan Sriwijaya?

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim yang terletak di wilayah Nusantara, yang pernah menjadi pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga ke-14.

Siapa yang mendirikan Kerajaan Sriwijaya?

Sriwijaya didirikan oleh Maharaja Kertanegara pada abad ke-7, dengan pusat pemerintahan di Palembang, Sumatra Selatan.

Apa yang membuat Sriwijaya sukses dalam perdagangan?

Sriwijaya menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara karena lokasinya di pesisir yang mengarah ke Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan penting untuk Cina, India, dan Asia Tenggara.

Apa faktor yang mempengaruhi keruntuhan Sriwijaya?

Sriwijaya mengalami bencana dalam bentuk peperangan saudara, serangan Jepang, serangan Portugis, penemuan jalur perdagangan baru Cina, serta pengaruh ajaran Islam yang mulai masuk ke Nusantara.

Apa dampak keruntuhan Sriwijaya terhadap Nusantara?

Keruntuhan Sriwijaya berdampak pada hilangnya kejayaan dalam bidang perdagangan dan sebagai pusat kebudayaan dan agama Buddha di Nusantara.

Kesimpulan

Kerajaan Sriwijaya telah menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara selama bertahun-tahun. Namun, keruntuhan melemahkan penguasaannya atas wilayah Nusantara. Peperangan saudara, serangan Jepang, serangan Portugis, jalur perdagangan baru Cina, serta pengaruh ajaran Islam mempengaruhi keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Keruntuhan Sriwijaya berdampak pada hilangnya kejayaan dalam bidang perdagangan dan sebagai pusat kebudayaan dan agama Buddha di Nusantara. Hilangnya Sriwijaya juga berdampak pada hilangnya warisan budaya Kerajaan Sriwijaya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments